Jakarta, 15 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto mengajak negara-negara anggota BRICS memanfaatkan kekuatan kolektif dalam mineral kritis, sumber daya energi, serta teknologi untuk mendorong pembangunan ekonomi hijau. Pesan tersebut disampaikan dalam sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi BRICS 2026 yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 13 September 2026. Prabowo menilai negara-negara BRICS secara bersama-sama memiliki porsi signifikan dari mineral kritis dan sumber daya energi dunia. Kekayaan tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam pembangunan yang semakin bergantung pada energi bersih dan teknologi rendah karbon. Menurut Prabowo, kekuatan sumber daya harus dipadukan dengan kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan besarnya pasar yang dimiliki anggota BRICS. Kerja sama tersebut diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi negara berkembang dalam transformasi ekonomi global.
Indonesia, menurut Prabowo, memiliki posisi strategis karena menyimpan berbagai sumber daya yang dibutuhkan dalam perkembangan teknologi masa depan. Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan rawan bencana, Indonesia pada saat yang sama menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, gempa, dan aktivitas gunung berapi. Namun, wilayah daratan dan laut Indonesia juga memiliki mineral kritis, sumber daya terbarukan, serta kekayaan alam yang dapat mendukung pengembangan teknologi bersih. Kondisi tersebut membuat ketahanan terhadap perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional. Pemerintah melihat pengelolaan sumber daya harus diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat kemampuan ekonomi. Pendekatan serupa dinilai dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan negara anggota BRICS.
Mineral kritis memiliki peran semakin penting karena menjadi bahan baku bagi berbagai teknologi modern. Pengembangan kendaraan listrik, baterai, jaringan penyimpanan energi, perangkat elektronik, dan berbagai teknologi rendah karbon membutuhkan pasokan mineral dalam jumlah besar. Negara yang memiliki sumber daya tersebut menghadapi peluang sekaligus tanggung jawab untuk mengelolanya secara berkelanjutan. Prabowo menilai BRICS mempunyai kekuatan besar apabila sumber daya setiap anggota dikombinasikan dalam suatu ekosistem kerja sama. Negara produsen dapat memperkuat pengolahan, sementara anggota yang memiliki teknologi dapat berkontribusi melalui penelitian dan pengembangan. Pasar besar yang dimiliki BRICS juga dapat mendukung pembentukan rantai pasok yang semakin kuat.
Prabowo menekankan bahwa ketahanan harus menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat. Kerentanan yang dihadapi negara berkembang perlu diubah menjadi peluang untuk menciptakan pertumbuhan dan meningkatkan kesejahteraan. Pendekatan tersebut menjadi relevan ketika perubahan iklim semakin memberikan tekanan terhadap pembangunan. Bencana dapat merusak infrastruktur, mengganggu produksi pangan, serta memberikan beban tambahan terhadap anggaran negara. Karena itu, investasi dalam ketahanan iklim perlu berjalan bersama dengan pembangunan ekonomi. Pemanfaatan mineral dan sumber daya energi juga harus diarahkan untuk mendukung transformasi tersebut, bukan hanya menjadi komoditas yang diperdagangkan dalam bentuk mentah.
Hilirisasi menjadi salah satu strategi yang dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar kepada negara pemilik mineral kritis. Indonesia selama beberapa tahun terakhir mendorong peningkatan pengolahan sumber daya alam di dalam negeri agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada aktivitas pertambangan. Pengembangan industri pengolahan dapat menciptakan lapangan kerja, memperluas investasi, dan membangun kemampuan teknologi. Namun, hilirisasi yang mendukung ekonomi hijau juga membutuhkan standar lingkungan yang semakin kuat. Penggunaan energi dalam proses pengolahan perlu diperhatikan agar peningkatan nilai tambah tidak menghasilkan tekanan emisi yang terlalu besar. Transformasi tersebut membutuhkan investasi pada teknologi produksi yang lebih efisien dan sumber energi rendah karbon.
Kerja sama BRICS dapat membuka ruang lebih besar untuk pengembangan teknologi tersebut. Negara-negara anggota memiliki kemampuan yang beragam dalam industri manufaktur, energi, penelitian, digitalisasi, dan pengelolaan sumber daya. Kolaborasi dapat dilakukan melalui investasi bersama, transfer teknologi, pengembangan tenaga kerja, maupun penelitian terhadap teknologi energi bersih. Negara berkembang membutuhkan akses teknologi dengan biaya yang semakin terjangkau agar transisi dapat dilakukan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan. Pembiayaan juga menjadi unsur penting karena pembangunan fasilitas industri hijau membutuhkan modal dalam jumlah besar. Institusi keuangan dan mekanisme kerja sama BRICS dapat memainkan peran dalam memperluas akses terhadap pendanaan pembangunan.
Prabowo juga menghubungkan agenda ekonomi hijau dengan kepentingan negara-negara Global South. Negara berkembang menghadapi tantangan untuk meningkatkan kesejahteraan ketika pada saat yang sama harus merespons perubahan iklim dan memenuhi berbagai target pembangunan berkelanjutan. Menurut Presiden, suara Global South perlu memperoleh ruang lebih besar dalam menentukan arah pembangunan dunia. BRICS dipandang memiliki posisi strategis karena menyatukan pasar besar, produsen energi, serta negara dengan sumber daya alam dan kapasitas industri yang signifikan. Kerja sama tersebut dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan negara berkembang menghadapi perubahan ekonomi global. Tujuannya bukan hanya memperbesar perdagangan, tetapi juga menciptakan pembangunan yang lebih inklusif.
Indonesia juga memiliki kepentingan memperluas kerja sama untuk mengembangkan rantai nilai mineral di dalam negeri. Investasi yang masuk diharapkan tidak hanya diarahkan pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga pembangunan fasilitas pengolahan dan industri turunannya. Pengembangan baterai dan ekosistem kendaraan listrik menjadi salah satu contoh bagaimana mineral dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih besar setelah melewati proses hilirisasi. Dalam jangka panjang, peningkatan kemampuan teknologi domestik dibutuhkan agar Indonesia tidak terus bergantung pada teknologi dari luar. Kemitraan dengan negara lain dapat digunakan untuk mempercepat proses tersebut selama memberikan manfaat yang seimbang. Pengembangan sumber daya manusia juga harus menjadi bagian dari setiap investasi teknologi.
Aspek keberlanjutan tetap menjadi bagian penting karena aktivitas pertambangan memiliki dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Permintaan mineral kritis yang meningkat tidak boleh membuat standar pengelolaan lingkungan diabaikan. Reklamasi, pengelolaan limbah, penggunaan air, perlindungan kawasan, dan pengurangan emisi perlu menjadi bagian dari pengembangan industri. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat di sekitar lokasi memperoleh manfaat ekonomi yang sebanding dengan perubahan yang terjadi di wilayah mereka. Transparansi dan pengawasan diperlukan agar agenda ekonomi hijau tidak berhenti pada perubahan teknologi di sektor hilir. Seluruh rantai produksi harus bergerak menuju standar yang semakin berkelanjutan.
Ajakan Prabowo kepada negara-negara BRICS pada akhirnya menempatkan mineral kritis sebagai salah satu modal penting dalam membangun ekonomi hijau dan memperkuat posisi negara berkembang. Indonesia melihat besarnya sumber daya BRICS dapat dipadukan dengan kemampuan teknologi, kapasitas produksi, dan pasar untuk menghasilkan kerja sama yang lebih luas. Tantangannya adalah memastikan pemanfaatan mineral memberikan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, serta tetap menjaga lingkungan. Ketahanan iklim dan pembangunan ekonomi juga perlu ditempatkan dalam satu kerangka yang saling mendukung. KTT BRICS 2026 menjadi ruang bagi Indonesia untuk mendorong kolaborasi tersebut sekaligus memperkuat suara Global South. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, mineral kritis dapat menjadi bagian dari transformasi industri menuju ekonomi yang lebih rendah karbon dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.





