Jakarta, 11 Mei 2026 – Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada Mei 2026. Sejumlah jenis BBM mengalami kenaikan harga, terutama produk diesel dan bahan bakar performa tinggi yang dijual di SPBU Pertamina.
Kenaikan harga ini langsung menjadi perhatian masyarakat karena berdampak pada biaya transportasi dan operasional kendaraan, khususnya kendaraan diesel dan sektor logistik. Meski demikian, pemerintah memastikan BBM subsidi seperti Pertalite dan BioSolar masih dipertahankan pada harga sebelumnya.
Beberapa produk yang mengalami kenaikan antara lain Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo. Sementara Pertamax reguler di sejumlah wilayah masih bertahan tanpa perubahan harga. Penyesuaian ini disebut mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berikut kisaran harga BBM Pertamina terbaru di sejumlah wilayah:
- Pertalite: sekitar Rp10.000 per liter
- Pertamax: sekitar Rp12.300 per liter
- Pertamax Green 95: sekitar Rp12.900 per liter
- Pertamax Turbo: naik menjadi sekitar Rp19.900 per liter
- Dexlite: naik hingga sekitar Rp26.000 per liter
- Pertamina Dex: menembus sekitar Rp27.900 per liter
- BioSolar subsidi: tetap sekitar Rp6.800 per liter
Kenaikan paling terasa terjadi pada produk diesel nonsubsidi. Banyak pelaku usaha transportasi dan pengguna kendaraan diesel mengeluhkan lonjakan harga yang dinilai cukup signifikan dibanding periode sebelumnya.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM sebelumnya menegaskan bahwa harga BBM subsidi masih akan dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan itu dilakukan agar dampak kenaikan harga energi global tidak langsung membebani masyarakat luas.
Di sisi lain, pengamat energi menilai penyesuaian harga BBM nonsubsidi sulit dihindari karena harga minyak dunia masih bergerak fluktuatif. Selain faktor global, nilai tukar rupiah dan biaya distribusi juga memengaruhi harga jual BBM di dalam negeri.
Kenaikan harga BBM ini diperkirakan akan berdampak pada berbagai sektor, terutama transportasi, logistik, dan distribusi barang. Masyarakat pun diimbau mulai mengatur konsumsi bahan bakar secara lebih efisien di tengah tren penyesuaian harga energi yang masih berlangsung.








