Banjarmasin, 4 September 2026 – Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin meminta inovasi pembasahan lahan gambut diterapkan secara lebih menyeluruh sebagai bagian dari upaya mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Pembasahan dinilai penting karena gambut yang kehilangan banyak kandungan air menjadi sangat rentan terbakar, terutama ketika Kalimantan Selatan memasuki periode dengan curah hujan rendah. Api pada lahan gambut juga dapat merambat hingga ke lapisan bawah permukaan sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan sumber daya lebih besar dibandingkan kebakaran pada lahan mineral. Pemerintah daerah karena itu ingin pendekatan penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul, tetapi semakin diarahkan pada pencegahan dengan menjaga kelembapan kawasan rawan. Inovasi yang telah menunjukkan manfaat di sejumlah lokasi diharapkan dapat diperluas penerapannya sesuai karakter masing-masing wilayah. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Kalimantan Selatan mengurangi risiko kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, transportasi, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pembasahan gambut pada dasarnya bertujuan mempertahankan kadar air sehingga lapisan organik tidak mudah mengering dan terbakar. Gambut memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar ketika kondisi hidrologinya tetap terjaga, tetapi perubahan tata air dapat membuat permukaan menjadi kering ketika musim kemarau berlangsung. Dalam kondisi tersebut, percikan api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan apabila tidak segera ditangani. Pemerintah daerah mendorong pengelolaan air dilakukan sebelum kondisi gambut mencapai tingkat kekeringan yang berbahaya. Infrastruktur pembasahan seperti sekat kanal, sumur bor, embung, maupun sistem distribusi air dapat digunakan berdasarkan kondisi lapangan. Penerapan teknologi tersebut harus disertai pemantauan sehingga ketersediaan air dapat dipertahankan pada periode ketika risiko kebakaran meningkat.
Muhidin menilai inovasi yang telah dikembangkan untuk pembasahan lahan perlu direplikasi dan tidak berhenti sebagai proyek percontohan pada wilayah tertentu. Setiap kabupaten atau kota yang memiliki kawasan rawan karhutla dapat mempelajari teknologi yang telah memberikan hasil kemudian menyesuaikannya dengan kondisi setempat. Karakter gambut dapat berbeda berdasarkan kedalaman, vegetasi, penggunaan lahan, jaringan kanal, dan keberadaan sumber air di sekitarnya. Karena itu, penerapan satu metode yang sama tanpa kajian lapangan belum tentu memberikan hasil optimal pada seluruh wilayah. Pemerintah daerah membutuhkan pemetaan yang rinci untuk mengetahui titik yang paling membutuhkan intervensi sebelum kemarau mencapai puncaknya. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan peralatan, personel, sumber air, dan anggaran yang diperlukan.
Pencegahan melalui pembasahan juga dinilai lebih efektif apabila dilakukan jauh sebelum ditemukan titik api. Ketika kebakaran telah masuk ke lapisan gambut, air yang disemprotkan pada permukaan belum tentu langsung mencapai bagian yang masih terbakar di bawah tanah. Api dapat bertahan dan kembali muncul ketika kondisi permukaan mengering atau tertiup angin. Situasi tersebut membuat petugas harus melakukan pemadaman dan pendinginan dalam waktu lebih panjang untuk memastikan seluruh titik panas benar-benar hilang. Menjaga gambut tetap lembap dapat mengurangi kemungkinan kondisi semacam itu terjadi sekaligus menekan kebutuhan operasi pemadaman berskala besar. Pendekatan pencegahan juga dapat membantu mengurangi biaya penanganan karena sumber daya dapat diarahkan sebelum kebakaran berkembang luas.
Penguatan sistem pembasahan membutuhkan kerja sama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, aparat, perusahaan, kelompok masyarakat, serta berbagai unsur yang mengelola kawasan gambut. Pemerintah tidak dapat mengendalikan kondisi seluruh lahan secara mandiri karena wilayah rawan dapat berada pada kawasan dengan status dan penggunaan berbeda. Perusahaan yang memiliki konsesi di sekitar gambut perlu memastikan sarana pencegahan dan pemadaman tersedia serta dapat digunakan ketika dibutuhkan. Masyarakat juga memiliki peran karena aktivitas mereka berada paling dekat dengan kondisi lapangan dan dapat membantu mendeteksi perubahan lingkungan maupun kemunculan titik api. Koordinasi tersebut perlu dibangun sebelum kondisi darurat sehingga pembagian tanggung jawab sudah diketahui ketika risiko meningkat. Dengan sistem yang terintegrasi, respons terhadap indikasi awal kebakaran dapat dilakukan lebih cepat.
Keberadaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan strategi pembasahan gambut. Pada musim kemarau panjang, kanal, sungai kecil, dan sumber air permukaan dapat mengalami penurunan debit sehingga petugas harus memiliki alternatif untuk mempertahankan pasokan. Sumur bor dapat menjadi salah satu pilihan pada lokasi tertentu, sementara embung dapat digunakan sebagai tempat menyimpan air yang kemudian dimanfaatkan ketika kondisi kering. Sekat kanal memiliki fungsi berbeda karena dapat membantu mempertahankan muka air gambut agar tidak terlalu cepat turun. Seluruh infrastruktur tersebut membutuhkan pemeliharaan secara berkala sehingga tetap dapat berfungsi ketika dibutuhkan. Pembangunan fasilitas tanpa pemantauan berkelanjutan berisiko membuat investasi pencegahan tidak memberikan manfaat optimal saat musim karhutla tiba.
Pemanfaatan teknologi pemantauan juga dapat memperkuat penerapan pembasahan secara lebih tepat sasaran. Data titik panas, kondisi cuaca, curah hujan, kelembapan, muka air tanah, dan karakter vegetasi dapat digunakan untuk menentukan wilayah dengan tingkat risiko lebih tinggi. Petugas kemudian dapat memprioritaskan pembasahan maupun patroli pada lokasi tersebut daripada membagi sumber daya secara merata tanpa mempertimbangkan kondisi aktual. Informasi dari satelit dapat dikombinasikan dengan laporan masyarakat dan pemeriksaan langsung untuk memastikan situasi di lapangan. Sistem peringatan dini yang baik memberikan waktu lebih banyak bagi pemerintah melakukan tindakan sebelum kebakaran berkembang. Penggunaan data secara konsisten juga membantu mengevaluasi apakah metode pembasahan yang telah diterapkan benar-benar mampu menurunkan tingkat kerawanan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga perlu memastikan strategi pembasahan berjalan beriringan dengan pengawasan terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Gambut yang telah dibasahi tetap membutuhkan perlindungan dari penggunaan api secara tidak terkendali maupun kegiatan yang dapat mengganggu tata air kawasan. Edukasi kepada masyarakat menjadi penting agar pencegahan tidak hanya bergantung pada patroli aparat. Warga perlu mengetahui dampak kebakaran gambut yang dapat berlangsung lama dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Kelompok masyarakat peduli api dapat dilibatkan dalam pemantauan sekaligus menjadi penghubung antara pemerintah dan penduduk di wilayah rawan. Pendekatan berbasis masyarakat memungkinkan informasi mengenai titik api atau kondisi lahan kering diterima lebih cepat sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
Karhutla memiliki dampak yang luas sehingga investasi pada pencegahan memberikan manfaat bagi banyak sektor. Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama terhadap anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki masalah pernapasan. Jarak pandang yang menurun juga dapat mengganggu penerbangan dan transportasi darat apabila kondisi berlangsung dalam skala besar. Sekolah dapat terpaksa menyesuaikan kegiatan belajar ketika kualitas udara memburuk, sementara aktivitas ekonomi masyarakat juga dapat terganggu. Kebakaran dalam skala luas sekaligus menghasilkan emisi karbon dan merusak ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. Karena itu, keberhasilan menjaga gambut tetap basah tidak hanya berhubungan dengan pemadaman kebakaran, tetapi juga perlindungan terhadap kesehatan, lingkungan, dan kegiatan sosial ekonomi.
Dorongan Gubernur Kalimantan Selatan agar inovasi pembasahan gambut diterapkan secara menyeluruh menunjukkan perubahan pendekatan penanganan karhutla menuju pencegahan yang lebih sistematis. Pemerintah daerah ingin teknologi dan metode yang telah memberikan hasil dapat diperluas pada kawasan rawan dengan tetap mempertimbangkan karakteristik setiap wilayah. Pemetaan risiko, pembangunan infrastruktur air, pemantauan muka air gambut, patroli, serta keterlibatan masyarakat perlu berjalan sebagai satu rangkaian yang saling mendukung. Pemerintah kabupaten dan kota juga diharapkan melakukan persiapan lebih awal sehingga intervensi tidak baru dilakukan ketika titik api mulai bermunculan. Evaluasi terhadap efektivitas setiap metode perlu terus dilakukan agar anggaran dan sumber daya diarahkan kepada pendekatan yang memberikan hasil terbaik. Dengan pembasahan yang konsisten dan koordinasi lintas sektor, Kalimantan Selatan berharap risiko kebakaran gambut serta kabut asap dapat ditekan sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah menghadapi musim kemarau.






