Jakarta, 27 Agustus 2026 – Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Dalam sambutannya, Prabowo secara terbuka menagih kartu tanda anggota (KTA) NU yang disebutnya sudah lama ia minta kepada Gus Yahya. Dengan nada bercanda, Presiden mengatakan kartu tersebut masih menjadi “utang” yang belum diberikan kepadanya. Pernyataan itu langsung disambut tawa dan tepuk tangan para peserta muktamar yang hadir dalam acara tersebut.
Momen tersebut terjadi ketika Prabowo menyampaikan sambutan di hadapan para kiai, pengurus NU, serta ribuan peserta Muktamar ke-35 NU pada Kamis (27/8/2026). Prabowo mengatakan dirinya sudah sejak lama meminta kartu anggota NU kepada Gus Yahya, tetapi hingga kini kartu tersebut belum diterima. Ia kemudian meminta agar kartu tersebut dapat diberikan sebelum rangkaian Muktamar ke-35 NU berakhir pada 31 Agustus mendatang. Suasana yang sebelumnya berlangsung formal pun menjadi lebih cair setelah Prabowo menyampaikan permintaan tersebut dengan gaya berseloroh.
Prabowo bahkan mengaitkan kartu anggota NU tersebut dengan rencananya menghadiri kembali acara penutupan Muktamar. Ia mengatakan dirinya bersedia datang lagi pada 31 Agustus apabila kartu anggota NU yang dimintanya sudah tersedia. Pernyataan tersebut disampaikan sambil tersenyum dan kembali mengundang reaksi meriah dari warga Nahdliyin yang berada di lokasi. Bagi Prabowo, permintaan tersebut disampaikan dalam suasana akrab dengan pimpinan NU dan menjadi salah satu bagian ringan dari pidatonya ketika membuka forum organisasi terbesar di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi momentum penting bagi NU untuk membahas berbagai persoalan organisasi, keumatan, serta isu kebangsaan. Dalam pembukaan muktamar, Prabowo secara resmi menandai dimulainya agenda tersebut dengan pemukulan beduk. Kehadiran Presiden bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan sejumlah pejabat negara memperlihatkan perhatian pemerintah terhadap forum yang menjadi salah satu agenda terbesar dalam organisasi Nahdlatul Ulama.
Di balik candaan mengenai kartu anggota, Prabowo juga menyampaikan pandangannya mengenai besarnya peran NU bagi Indonesia. Menurutnya, NU merupakan salah satu aset bangsa yang sangat besar. Ia menyebut NU selalu hadir dalam berbagai peristiwa penting yang dihadapi Indonesia, termasuk ketika bangsa berada dalam situasi krisis. Karena itu, Prabowo menilai keberadaan NU memiliki arti penting dalam menjaga stabilitas, keamanan, perdamaian, dan masa depan Indonesia.
Prabowo juga menempatkan NU bersama Muhammadiyah sebagai dua organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa. Ia menilai pemerintah atau umara perlu membangun hubungan yang dekat dengan kedua organisasi tersebut apabila Indonesia ingin terus berkembang sekaligus menjaga keamanan dan stabilitas nasional. Menurutnya, hubungan pemerintah dengan organisasi masyarakat keagamaan tidak hanya penting dalam konteks politik, tetapi juga dalam membangun kerja sama sosial dan memperkuat kehidupan masyarakat.
Dalam sambutannya, Prabowo turut mengakui besarnya dukungan NU dan Muhammadiyah terhadap dirinya dalam perjalanan politik hingga menjadi Presiden Republik Indonesia. Ia menyampaikan bahwa tanpa dukungan dari kedua organisasi tersebut, dirinya tidak mungkin mendapatkan mandat dari rakyat. Pernyataan itu disampaikan untuk menggambarkan betapa pentingnya posisi NU dan Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa serta besarnya pengaruh kedua organisasi dalam membangun masyarakat.
Prabowo kemudian menegaskan keinginannya untuk terus memperkuat dan memberdayakan NU. Ia menyebut pesantren-pesantren NU sebagai bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian. Menurutnya, pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter generasi muda dan menjaga nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu terus membangun kerja sama dengan lingkungan pesantren serta memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan yang dapat memperkuat kemandirian masyarakat.
Permintaan kartu anggota NU yang disampaikan Prabowo juga menarik perhatian karena KartaNU merupakan identitas digital resmi bagi warga dan pengurus Nahdlatul Ulama. Kartu tersebut tidak sekadar menjadi tanda keanggotaan secara administratif, tetapi menjadi bagian dari upaya organisasi melakukan pendataan dan digitalisasi keanggotaan. Dengan adanya sistem tersebut, NU dapat membangun basis data anggota yang lebih terstruktur sekaligus mengembangkan berbagai layanan yang berkaitan dengan warga organisasi.
Ketika Prabowo meminta kartu tersebut kepada Gus Yahya, konteksnya memang disampaikan dalam suasana bercanda. Tidak ada pernyataan bahwa Presiden telah secara resmi menjadi anggota NU dalam kesempatan tersebut. Prabowo hanya menyampaikan keinginannya untuk memiliki kartu anggota dan meminta Gus Yahya segera memenuhi permintaannya. Karena disampaikan di hadapan peserta muktamar, pernyataan itu kemudian menjadi salah satu momen yang paling mencairkan suasana dalam pembukaan agenda tersebut.
Bagi Gus Yahya, permintaan Presiden tersebut juga menjadi momen yang menunjukkan kedekatan komunikasi antara pemerintah dan PBNU. Hubungan antara pemerintah dengan organisasi keagamaan memiliki peran penting dalam berbagai persoalan nasional, khususnya ketika menyangkut pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, ekonomi umat, hingga penguatan toleransi. Interaksi yang berlangsung dalam suasana informal seperti candaan mengenai kartu anggota dapat menjadi gambaran hubungan komunikasi yang lebih cair antara pejabat negara dan pimpinan organisasi.
Kehadiran Prabowo dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU juga memperlihatkan bahwa pemerintah memberikan perhatian terhadap agenda organisasi tersebut. Dalam forum itu, NU tidak hanya membicarakan persoalan internal organisasi, tetapi juga berbagai isu yang berkaitan dengan arah bangsa. Muktamar menjadi ruang bagi para ulama, pengurus, serta warga NU untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun langkah menghadapi tantangan sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan pada masa mendatang.
Prabowo sendiri dalam sejumlah kesempatan menekankan pentingnya peran ulama dalam perjalanan Indonesia. Dalam pembukaan Muktamar NU kali ini, ia kembali menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi ulama dan pesantren. Menurutnya, jasa para ulama dalam menjaga persatuan serta memperjuangkan kemerdekaan tidak boleh dilupakan. Pandangan tersebut menjadi bagian dari pesan kebangsaan yang disampaikan Prabowo di tengah forum yang dihadiri para tokoh NU dari berbagai daerah.
Muktamar ke-35 NU juga menjadi forum konsolidasi bagi warga Nahdliyin dari berbagai wilayah Indonesia. Selama beberapa hari, para peserta akan membahas sejumlah agenda organisasi sekaligus menentukan arah NU dalam menghadapi perubahan zaman. Pembahasan tersebut mencakup persoalan internal organisasi hingga isu yang lebih luas, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, teknologi, dan peran NU dalam kehidupan kebangsaan. Dengan jumlah anggota dan jaringan pesantren yang sangat besar, keputusan yang dihasilkan dari muktamar berpotensi memberikan pengaruh luas terhadap masyarakat.
Sementara itu, pernyataan Prabowo mengenai kartu anggota NU diperkirakan masih akan menjadi bahan perbincangan hingga penutupan muktamar. Sebab, Presiden secara terbuka menyebut dirinya akan kembali hadir pada 31 Agustus apabila kartu tersebut sudah diberikan. Dengan demikian, candaan yang awalnya disampaikan di tengah pidato justru menjadi semacam janji informal yang menarik perhatian peserta. Tinggal menunggu apakah Gus Yahya benar-benar memberikan kartu tersebut sebelum rangkaian muktamar berakhir.
Di luar persoalan kartu, pesan utama Prabowo dalam acara tersebut adalah pentingnya menjaga hubungan antara pemerintah dan organisasi keagamaan. Ia menilai pemerintah tidak dapat bekerja sendirian dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa. Organisasi seperti NU dan Muhammadiyah memiliki jaringan sosial yang luas serta kedekatan dengan masyarakat sehingga dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai program. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar kebijakan pemerintah dapat diterima dan dirasakan manfaatnya hingga tingkat masyarakat.
Prabowo juga menempatkan pesantren sebagai salah satu kekuatan sosial yang perlu terus diperkuat. Pesantren memiliki peran historis dalam pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat, sekaligus menjadi pusat kegiatan sosial di banyak daerah. Dukungan terhadap pesantren karena itu tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas pendidikan, tetapi juga dapat mencakup pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan kemampuan generasi muda menghadapi perubahan teknologi dan ekonomi global.
Bagi NU, perhatian Presiden terhadap organisasi tersebut juga dapat menjadi peluang untuk memperkuat komunikasi dengan pemerintah. Namun, hubungan tersebut tetap membutuhkan ruang bagi organisasi untuk menjalankan fungsi sosial dan keagamaannya secara mandiri. NU selama ini memiliki sejarah panjang sebagai organisasi masyarakat yang terlibat dalam berbagai persoalan bangsa, sehingga kerja sama dengan pemerintah dapat diarahkan pada kepentingan masyarakat luas tanpa menghilangkan karakter dan independensi organisasi.
Momen Prabowo menagih KTA NU kepada Gus Yahya pada akhirnya menjadi salah satu adegan menarik dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU. Di tengah pidato yang membahas persoalan bangsa dan peran ulama, Presiden menyisipkan candaan sederhana mengenai kartu anggota yang sudah lama dimintanya. Gus Yahya disebut masih memiliki “utang” kartu tersebut kepada Prabowo, sementara Presiden memberikan tenggat secara bergurau sebelum penutupan muktamar.
Jika kartu anggota tersebut benar-benar diberikan sebelum 31 Agustus, Prabowo telah menyatakan kesediaannya untuk kembali menghadiri penutupan Muktamar ke-35 NU. Untuk sementara, permintaan itu menjadi bagian dari suasana akrab dalam pembukaan forum besar Nahdlatul Ulama. Di balik candaan tersebut, Prabowo sekaligus menegaskan penghormatannya terhadap NU, pesantren, dan para ulama yang dinilainya memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia.





